THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES �

Kamis, 12 Februari 2009

Kisah Perdebatan Kaum Khawarij dengan Ali

”Aku adalah kota ( gudang ilmu ), sedangkan Ali adalah pintu gerbangnya”.


Setelah mendengar sabda nabi tersebut, maka timbullah kedengkian kaum Khawarij terhadap Ali ra. Lalu mereka berunding yang terdiri dari 10 orang pemuka kaum Khawarij untuk mencoba menjajaki kecerdikan dan ketangkasan Ali. Mereka berkata : ”Mari kita tanyakan satu masalah saja kepada Ali, coba bagaimana cara dia menjawabnya. Kalau satu masalah ini dapat dijawab dengan jawaban yang tidak sama, maka benarlah kalau dia benar-benar seorang ’alim yang cerdik sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw. Tersebut.”


Sepuluh orang itu terus menuju ke tempat Ali ra. Satu persatu. Adapun satu masalah yang ditanyakan adalah :


”Wahai Ali, lebih utama mana ilmu dengan harta?”


Demikian masalah yang ditanyakan, lalu mulailah bergantian satu persatu menanyakan.


  1. Khawarij : Lebih utama mana ilmu dengan harta?

Ali ra. : Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab ilmu adalah merupakan pustaka para nabi, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir’aun dan lainnya.

  1. Khawarij : Lebih utama mana ilmu dengan harta?

Ali ra. : Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab ilmu dapat menjaga kamu, sedangkan harta, maka kamulah yang menjaganya.

  1. Khawarij : Lebih utama mana ilmu dengan harta?

Ali ra. : Ilmu lebih utama daripada harta, sebab orang kaya harta banyak musuhnya, sedangkan orang yang kaya ilmu banyak sahabatnya.

  1. Khawarij : Lebih utama mana ilmu dengan harta?

Ali ra. : Ilmu lebih utama daripada harta, sebab harta kalau dibelanjakan menjadi berkurang, sedangkan ilmu kalau diberikan malah bertambah.

  1. Khawarij : Lebih utama mana ilmu dengan harta?

Ali ra. : Ilmu lebih utama daripada harta. Karena orang yang banyak harta dipanggil dengan sebutan bakhil, sedangkan orang yang banyak ilmunya disebut agung.

  1. Khawarij : Lebih utama mana ilmu dengan harta?

Ali ra. : Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab ilmu tidak perlu penjagaan dari pencuri, sedangkan harta harus dijaga dari pencuri.

  1. Khawarij : Lebih utama mana ilmu dengan harta?

Ali ra. : Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab pada hari kiamat orang yang banyak harta pasti akan dihisab, sedangkan orang yang berilmu dapat memberikan syafa’at pada hari kiamat.

  1. Khawarij : Lebih utama mana ilmu dengan harta?

Ali ra. : Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab lamanya pengangguran dalam melewatkan waktu harta dapat rusak dan habis, sedangkan ilmu tidak akan rusak dan tidak akan habis.

  1. Khawarij : Lebih utama mana ilmu dengan harta?

Ali ra. : Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab harta dapat menjadikan padatnya perasaan, sedangkan ilmu dapat menerangi hati.

  1. Khawarij : Lebih utama mana ilmu dengan harta?

Ali ra. : Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab orang yang memiliki harta, maka dengan harta ia sering mengaku sifat ketuhanan, sedangkan orang yang berilmu dapat merealisisir ibadah.


Setelah sepuluh orang Khawarij itu selesai bertanya, lalu Ali ra. Berkata : ”Andaikata mereka bertanya kepadaku dari satu masalah itu, tetap saya jawab dengan jawaban yang berlainan ( berbeda ) selama saya masih hidup”. Akhirnya mereka menghadap kepada Ali ra. dan menyerah semuanya.


Dari Hikayat-hikayat Teladan Dalam 40 Hadits.

Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Al’Ushfuri


ikan mencari air

Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Kata ayah kepada anaknya, ”Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.”


Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air. Ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting bagi kehidupan ini.


Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, ”Hai, tahukah kamu dimana air? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”


Ternyata semua ikan tidak mengetahui di mana air itu. Si ikan kecil semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman. Kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal serupa, ”Dimanakah air?”


Jawab ikan sepuh, ”Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita akan mati.”


Kehidupan dan kebahagiaan ada di sekeliling kita dan sedang kita jalani, sepanjang kita mau membuka diri dan pikiran kita, karena saat untuk berbahagia adalah saat ini, saat untuk berbahagia dapat kita tentukan.


Dari buku Mengasah hati

Karya Zaim Saidi

Jumat, 06 Februari 2009

Bos

Ketika tubuh pertama kali diciptakan, semua bagian ingin menjadi bos.

Pertama-tama sang otak berkata, ”Saya harus menjadi bos karena saya mengendalikan seluruh fungsi dan respon tubuh.”

Lalu kaki berkata, ”Kita harus menjadi Bos, karena kita menopang otak dan membawa kemana pun ia pergi.”

Tangan menimpali. ”Kita harus menjadi Bos, karena kita melakukan semua pekerjaan dan mencari uang.”

Demikianlah pertengkaran itu terus berlangsung, dari sang hati, lalu paru-paru, lalu mata sampai akhirnya kemudian giliran pantat angkat bicara. Semua menertawakan ide untuk menjadikan pantat sebagai Bos. Sebagai pelampiasan rasa kesal, akhirnya pantat mogok bekerja, ia menutup lobangnya.

Kontan dalam waktu singkat, kedua belah mata terbeliak, tangan, kaki, jantung dan paru-paru mulai panik, sementara si otak merasakan demam. Akhirnya mereka semua sepakat dan memutuskan, sang pantatlah yang paling pantas menjadi Bos, dan segala ketidaknyamananpun lewat. Semua bagian tubuh lain kembali bekerja, sementara si Bos, duduk-duduk, sambil mengeluarkan kotoran.

Kalian tak memerlukan otak sebagai Bos; pantatpun bisa.

Dari buku ”Mengasah hati”
Penulis Zaim Saidi
Jakarta, Pustaka Adina, 2004



Hikmah

Assalamualaikum....

Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadikan kita semakin mencintai Nabi Muhammad, Rasulullah saw. Allahumma shali ala muhammad wa ala ali Muhammad.

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid, Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembarpun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya.

Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satupun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. ”Jika kalian kasihan kepadaku, berikan aku kesempatan untuk membersihkannya”, kata nenek itu.

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskannya sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan anda dapat mendengarkan rahasia itu.

”Saya ini perempuan bodoh, pak kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Kisah ini di dengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah SWT. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur. Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia amat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw?

Diketik ulang dari buku “Rindu Rosul”, karangan Jalaluddin Rakhmat, Penerbit Rosda Bandung, hlm. 31-33
Cetakan pertama September 2001.

Wassalam



Nasehat Imam Ghozali

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya....

Imam Ghozali : Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid : orang tua, guru, teman, dan kerabatnya.
Imam Ghozali : semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “Mati”. Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Imam Ghozali : Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?
Murid : negara Cina, bulan, matahari dan bintang-bintang.
Imam Ghozali : semua jawaban benar. Tapi yang paling benar adalah ”masa lalu”. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama.

Imam Ghozali : Apa yang paling besar di dunia ini?.
Murid : gunung, bumi, dan matahari.
Imam Ghozali : Semua jawaban itu benar. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah ”Nafsu” ( Al A’raf 179 ). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Imam Ghozali : Apa yang paling berat di dunia ini?
Murid : baja, besi, dan gajah.
Imam Ghozali : semua jawaban itu benar, tapi yang paling berat adalah “memegang amanah” ( Al Ahzab 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah ( pemimpin ) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Imam Ghozali : Apa yang paling ringan di dunia ini?
Murid : kapas, angin, debu dan daun-daunan.
Imam Ghozali : Semua itu benar kata, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “meninggalkan sholat”. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan solat, gara-gara meeting kita tinggalkan solat.

Imam Ghozali : Apakah yang paling tajam di dunia ini?
Murid : pedaaaang.....
Imam Ghozali : Benar, tapi yang paling tajam adalah ”lidah manusia”. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.





ShoutMix chat widget